BAB I
PEMBUKAAN
1.MUQADIMAH
إِنَّ
الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ
وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Segala puji bagi Allah SWT, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan, dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal kita. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku bersaksi bahwa tidak adaTuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada Muhammad SAW dan keluarganya, dan sahabat dan siapa saja yang mendapat petunjuk hingga hari kiamat.
Segala puji bagi Allah SWT, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan, dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal kita. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku bersaksi bahwa tidak adaTuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada Muhammad SAW dan keluarganya, dan sahabat dan siapa saja yang mendapat petunjuk hingga hari kiamat.
Al-Qur’an adalah kitab suci yang di turunkan
sebagai petunjuk bagi manusia, ia adalah kalamullah yang merupakan asas sumber
islam yang pertama. Al-Qur’an juga memiliki keistimewaan tersendiri
salah satunya terjaga dari perubahan dan penyelewengan.
إِنَّا
نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ [١٥:٩]
“Sesungguhnya Kamilah yang
menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”
Al Quran merupakan mu’jizat yang sangat besar, di antara mu’jizatnya adalah tidak menimbulkan perasaan bosan ketika
membacanya, bahkan yang terjadi adalah sebaliknya. A-Qur’an
semakin banyak di baca maka akan memotifasi kita untuk membacanya lebih banyak
lagi, karena itulah Al-Qur’an al karim memiliki kedudukan tersendiri di hati
kaum muslimin.
Oleh karena
itu di antara sebab kemuliaan umat ini adalah selagi umat masih menghormati, mengagungkan dan memuliakan Al-Qur’an serta dengan mengamalkannya. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan ahlul Qur’an yang
merupakan ahlullah (keluarga allah)dan orang orang terdekatnya. dan semoga
Allah memuliakan kita dengan syafa’at A-Qur’an, mengangkat derajat-derajat kita
di surga, dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang di kasihaninya.
Semoga makalah yang kami buat ini
bisa bermanfaat dan memepermudah kita dalam mengkajinya.
BAB II ISI
I.PENGERTIAN AL-QUR’AN[1]
Pengertian secara Etimologi
Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-Qur’an
berasal dari bahasa Arab yang berarti “bacaan” atau “sesuatu yang dibaca
berulang-ulang”. Kata Al-Qur’an
adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja “qara’a” yang artinya
membaca. Konsep pemakaian kata ini dapat juga dijumpai pada salah satu surat
A-Qur’an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 surat Al-Qiyamah
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ. فذَاَإِ
قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
“Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (didalam
dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu)itu adalah tanggungan kami.
(karena itu) jika kami telah membacanya hendaknya kamu ikuti (amalan)
bacaannya”. (Al-Qiyamah: 17-18)
Pengertian Secara terminologi
Kalam
Allah SWT. Yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW.
Dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, dan membacanya
termasuk ibadah.
II.KEISTIMEWAAN AL-QUR’AN
Pada
umumnya manusia dianggap istimewa karena apa yang dimilikinya. Seperti para
Nabi dan Rasul yang mempunyai keistimewaan tersendiri. Sebagai manusia biasa
kita semestinya berusaha untuk memiliki sesuatu yang dapat menjadikan kita
istimewa di hadapan Allah SWT. Apakah hal itu mungkin? Tentu saja mungkin.
Caranya adalah menjadi salah satu dari manusia yang dipilih oleh Allah SWT.
Sebagai penjaga dan penghafal Al-Qur’an.
Annas
bin Malik adalah seorang sahabat yang sejak kecil hidup bersama Rasulullah SAW.
Beliau pernah menceritakan bahwa Rasulullah pernah memberitahunya tentang
orang-orang yang dipilih Allah SWT. Mereka sudah layak menjadi ‘keluarga’ Allah
SWT. Rasulullah SAW bersabda:
ان للة عز وجل اهلين من خلقه و ان اهل القران
اهل الله و خا صته
“Sesungguhnya Allah SWT memiliki
“keluarga” dari kalangan mahlukNya. Dan sesungguhnya ahli Al-Qur’an adalah “keluarga” Allah dan pilihanNya.” (HR. Imam ahmad)
Imam Asy-syaukani menjelaskan hadist ini,
bahwa yang di maksud “keluarga-Nya” ini adalah majas metavora. Karena mereka
adalah orang orang yang di dekatkan derajatnya dan di berikan keistimewan,
seperti layaknya keluarga. Di tempat lain, Imam Asy-syaukani menjelaskan hadist
di atas, yang di maksud “keluarga” Allah dan pilihan-Nya adalah para penghafal
Al-Qur’an. Di tgaskan beliau bahwa mereka adalah para wali Allah SWT yang di
beri keistimewaan. Imam Al-Hakim mengatakan, bahwa para penghafal Al-Qur’an
yang menjaga dirinya dari dosa dosa layaknya pengantin yang dihiasi dengan
kecantikan, yang terjaga dari segala jenis kotoran dan debu. Berdsarkan
keterangan tersebut, jika kita ingin melihat wali-wali Allah, marilah kita menyaksikan
para penghafal Al-Qur’an yang mampu mengamalkan kandungan dan
tuntunan Al-Qur’an dalam kehidupan mereka. Mereka itulah
para wali Allah SWT yang tampak di muka bumi ini.
Apabila
para penghafal Al-Qur’an adalah wali-wali Allah SWT, maka mereka
tidak perlu lagi bersedih dan hawatir, sebab Allah SWT telah menjamin mereka.
Firman Allah SWT
أَلَا
إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [١٠:٦٢]
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu,tidak ada kehawatiran terhadap mereka dan
tidak (pula) mereka bersedih hati” ( yunus : 62 )
Sesungguhnya
para penghafal Al Qur’an itu juga mencintai Allah SWT dengan bukti keteguhannya
dalam menghafalkan firman-Nya serta menjaganya. Allah SWT menyiggung dalam Al
Qur’an
إِنَّ
وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ ۖ
وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ [٧:١٩٦]
“Sesungguhnya pelindungku adalah Allah,yang telah menurunkan (Al Qur’an)
dan Dia melindungi orang-orang yang shalih” (Al A’raf 196)
Jika keistimewaan seperti itu
didapatkan para penghafal Al-Qur’an di dunia, maka sesugguhnya di akhirat, para
penghafal Al-Qur’an itupun mendapatkan keistimewaan-keisimewaan yang sungguh
dahsyat.
Dalam
sebuah hadist istri Rasulullah SAW, Aisyah binti Abu Bakar, pernah mengatakan
bahwa tangga-tangga surga itu diciptakan oleh Allah SWT sesuai dengan jumlah
ayat-ayat yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Barang siapa diakhirat kelak bisa
membacanya hingga sepertiga Al-Qur’an, maka dia akan berada disepertiga
ingkatan surga. Barang siapa yang bisa membaca separu Al-Qur’an, maka dia akan
di persilakan untuk menempati surga di tingkat
tengah. Sedangkan orang yang mampu membaca seluruh ayat-ayat Al-Qur’an di
akhirat nanti, dia akan dipersilahka untuk tinggal dan berada di bagian surga
yang paling atas, tak ada seorangpun yang berada di atasnya lagi kecuali para
nabi, rasul, orang-orang sidik, dan suhada saja.
Siapakah
yang mampu membaca Al-Qur’an kelak di hari kiamat? Apakah semua orang dapat
membacanya? Tentu tidak semua orang mukmin dapat membaca Al-Qur’an ada hari
itu. Yang bisa membaca hanyalah mereka yang sudah hafal Al-Qur’an di dunia.
Sebab, meskipun tidak di terangkan mereka adalah para penghafal Al-Qur’an.
Jelasnya, seseorang yang sewaktu di
dunia tdk hafal Al-Qur’an, bagaimana mungkin di akhirat dia akan membaca
Al-Qur’an? Apakah harus membacanya dengan melihat mushaf? Mushaf AL-Qur’an dari
mana? Apakah di surga ada mushaf yang bisa dia gunakan
untuk membaca? Inilah salah satu sebab yang mendorong para penghafal Al-Qur’an,
sehingga mereka berlomba-lomba menyempurnakan seluruh hafalan Al-Qur’an.
Orang yang bisa menghafal AL-Qur’an dan menjadi penghafal (hafiz,
bentuk jamaknya adalah huffazth) adalah orang yang di beri keistimewaan.
Sudah sepatutnya dia menjaga hafalan Al-Qur’annya hingga mati, agar kelak di
akhirat dia masih bisa membaca ayat-ayat itu sambil menaiki tangga-tangga surga
menuju tingkatan surga yang paling tinggi. Karena setiap surat dalam Al-Qur’an yang kita hafalkan itu
akan datang silih berganti menjadi pembela kita di hadapan Allah SWT.
Sungguh, banyak keistimewaan para penghafal Al-Qur’an yang
hari-harinya di hiasi dengan membaca Al-Qur’an. Tidakkah kita membayangkan jika
satu huruf dari Al-Qur’an itu bernilai sepuluh pahala kebaikan di sisi Allah
SWT ? Hal ini sesuai sabda Rasulullah SAW
من قرا حرفا من كتب الله فله به حسنة والحسنة بعشر امثا له لا اقول
الم حرف ولكن الف حرف ولام حرف و ميم حرف
“ Barang siap membaca satu huruf
dari kitab Allah (Al-Qur’an), maka dia mendapat satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatkan
menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan alif lam mim adalah satu huruf, namun
alif adalah satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi)[2]
III. ADAB TERHADAP AL-QUR’AN[3]
Sebagai
seorang muslim kita tidak boleh memperlakukan Al-Qur’an sama dengan buku atau
kitab lainnya, karena keistimewaan dan kesucian yang dimiliki Al-Qur’an
benar-benar dijaga oleh Allah SWT. Para ulama telah mengajarkan umatnya
bagaimana cara beradab terhadap Al-Qur’an, diantara adab-adabnya adalah:
1.
Ikhlas dan meluruskan niat semata-mata karena
Allah SWT.
2.
Bersiwak sebelum membaca Al-Qur’an.
3.
Menutup aurat .
4.
Memakai wewangian.
5.
Bersuci atau berwudhu terlebih dahulu.
6.
Mengawalinya dengan membaca ta’awudz
(berlindung) kepada Allah.
7.
Menghadirkan hati (tawajjuh).
8.
Duduk bersila atau iftirasy.
9.
Menghadap kiblat.
10.
Mentadabburi (merenungi) maknanya.
11.
Tatsur fiqalbi (mengesankan dalam hati).
12.
Membenarkan (tasdiq) dan meyakini bahwa
kalamullah adalah hak.
13.
Memuliakan dan menghormatinya.
14.
Tidak membawa dan membacanya ditempat yang
kotor seperti wc.
15.
Membacanya dengan tartil.
16.
Membaca dengan membaguskan suara sesuai dengan
aturan dan anjuran nabi Muhammad SAW.
17.
Membacanya ditempat yang layak (kondusif).
18.
Meletakkan mushaf ditempat yang tinggi dan
jangan meletakkan mushaf dibawah seperti dilantai, karpet atau tikar dan jangan
tertumpangi barang lain seperti bolpoint, buku-buku, kaca mata dan lain-lain.
19.
Niat mengamalkan dan menyampaikan.
20.
Seusai membaca hendaknya bertaubat dan
beristighfar karena mungkin banyak kesalahan, seperti tidak sesuai dengan
makhaj dan tajwid serta adab yang telah dilanggar baik yang disadari maupun
yang tidak kita sadari.
21.
Memegang mushaf dengan tangan kanan dan
dianggat, handaknya tidak sampai dibawah pusar.
IV.TIPS-TIPS MENGHAFAL AL-QUR’AN[4]
Sebelum
seseorang mulai menghafal, hal-hal berikut ini sebaiknya diperhatikan untuk
kemudian dilakukan.
1.
Mantapkan hati, kuatkan niat, dan bulatkan
tekad untuk menjadi penghafal Al-Qur’an.
2.
Memilih waktu dan tempat yang tepat untuk
menghafal.
3.
Yakinkan diri anda dan percayalah kepada Allah
SWT yang memudahkan Al-Qur’an untuk dihafal.
4.
Yakinlah pada niat itu dan yakinkan dirimu
bahwa kamu adalh salah satu orang yang akan dipilih Allah SWT menjadi penjaga
kalamnya dimuka bumi.
5.
Berfikirlah bahwa jika orang lain bisa menghafal AL-Qur’an maka andapun bisa menghafalkannya. Karena pada hakikatnya,
seorang mukmin diberikan kesempatan yang sama untuk menjadi enghafal AL-Qur’an.
6.
Bayangkan setiap saat bahwa anda adalah orang
yang sudah hafal Al-Qur’an 30 juz.
7.
Berusahalah untuk selalu mensyukuri hafalan
yang sudah anda selesaikan meskipun hanya beberapa surat Al-Qur’an. Kareana
dengan bersyukur hafalan kita akan bertambah.
8.
Memperbaiki bacaan lebih didahulukan daripada
menghafal.
9.
Memakai satu versi cetakan mushaf Al-Qur’an.
10.
Mengulang-ngulang bacaan dapat menjaga hafalan
baru agar tidak keliru dan hilang.
11.
Menghafalkan setiap hari secara rutin lebih
baik darimpada menghafal secar serabutan (kadang-kadang).
12.
Menghafalkan secara perlahan-lahan dan teratur
lebih baik dari pada menghafalkan secara cepat dan terburu-buru.
13.
Konsentrasi pada ayat-ayat yang lafazhnya
hampir mirip dapat mencegah tercampurnya hafalan.
14.
Memusatkan pandangan pada tulisan ayat-ayat ketika menghafal agar ayat-ayat itu terbentuk di otak.
15.
Melakukan murojaah (mengulangi hafalan) secra
rutin dapat mengokohkan hafalan.
16.
Motifasi yang kuat dan keinginan diri sendiri
untuk menghafal Al-Qur’an.
17.
Bersandar kepada Allah SWT dengan berdoa dan
memohonbantuannya merupakan salah satu faktor penting untuk menghafal Al-Qur’an.
V.BEBERAPA HAL YANG BISA MEMBUAT HAFALAN HILANG
1. Ada niat tetapi tidak dilakukan.
2. tidak melaksanakan shalat hajat.
3. Tidak menjaga pandangan kepada yang bukan mahromnya.
Baik memandang secara langsung ataupun lewat foto, layar monitor dan lain
sebagainya.
4. Tidak shalat tepat waktu.
5. Tidak melaksanakan shalat sunnah qabliyah dan ba’diah
6. Tidak mendoakan orang tua.
7. Bersikap sombong.
Selain yang disebutkan di atas, ada
juga penyebab-penyebab lain yang bisa menjadi faktor hilangnya hafalan.
Diantaranya mendengarkan musik karena bisa mengurangi kefasihan atau menambah
kesulitan dalam membaca ayat-ayat Al-Qur’an.
BAB III PENUTUP
I.Kesimpulan
Kitab suci Al-Qur’an adalah sumber kebahagiaan
dan jalan keluar dari fitnah yang beragam. Siapa yang meninggalkannya karena
kesombongan, Allah akan memusuhinya, dan barang siapa yang mencari petunjuk
selain-Nya, maka Allah akan menyesatkannya. Al-Qur’an adalah tali Allah yang
kokoh, peringatan yang bijaksana, dan penunjuk jalan yang lurus. Para ulama
tidak pernah bosan mempelajarinya. Kebenarannya tidak terbantahkan, tak akan
habis keajaibannya. Barangsiapa mengamalkannya, ia akan mendapatkan balasannya.
Barangsiapa menghukumi persoalan dengannya, maka ia pasti adil. Barangsiapa
menyeru kepadanya, maka ia akan mendapatkan jalan yang lurus. Itulah
kitabullah, Al-Qur’an Al-Karim. Maka bergegaslah untuk mempelajarinya,
membacanya dan bertafakur tentangnya niscaya Allah akan memudahkan segala
urusanmu.
II.Daftar Pustaka
1.
As-Shalih Subhi. 1990. Membahas Ilmu-Ilmu
Al-Qur’an. Jakarta: Penerbit Pustaka Firdaus
2.
Muhith Faizin Nur, M.A. 2013. Semua Bisa Hafal Al-Qur’an. Surakarta : Al-Qudwah Publishing
3.
Birri
Bathul Maftuh. 2008. Al-Qur’an Hidangan Segar. Jawa Timur : Madrasah Murottilil
Qur-ani Karim
4.
Al-Qhautsani
bin Abdurrazzaq Yahya. 2011. Cara cepat dan Mudah Menghafalkan Al-Qur’an.
Jakarta : Pustaka Imam Asy-Syafi’i
5.
Al-Laahim
bin Abdul Karim Khalid. 2015. Mengapa Saya Menghafal Qur’an?. Jakarta. Daar
An-Naba’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar