Jumat, 16 Oktober 2015

Adab Safar


MUQADDIMAH

Dengan menyebut asma Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih memberikan kita nikmat sehat, dan juga kesempatan kepada kita semua sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah dengan baik tanpa halangan sedikitpun. Dan tak akan terlupa pula salam kepada qudwah kita,  seorang hamba dan penuntun terbaik yaitu Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam, semoga shalawat selalu tercurah atas beliau, keluarga beliau, sahabat-sahabat beliau serta orang-orang yang mengikuti beliau hingga yaumul akhir.

Kita hidup di dunia ini sebagai seorang musafir. Betapa seringnya kita melakukan sebuah perjalanan pendek maupun panjang, namun betapa sering pula kita melupakan hal terpenting dalam perjalanan tersebut. Dari realita yang ada inilah makalah ini terselesaikan, mengupas hal terpenting dalam safar yang sering terlupakan, “Adab-Adab Safar dalam Islam”.

Semoga dengan terselesaikannya makalah ini bermanfaat dan dapat menambah keilmuan kita serta memudahkan perjalanan (safar) kita sebagai seorang musafir.

A.   DEFINISI SAFAR

Dalam kamus bahasa arab السفر adalah jama’ dari kata سافر yang memiliki arti: perjalanan. Menurut bahasa, kata السفر itu berarti penempuhan jarak, sedangkan menurut syari’at, السفر adalah keluar untuk melakukan perjalanan selama tiga hari tiga malam atau lebih dengan menaiki unta atau berjalan kaki[1].

 

B.   MACAM – MACAM SAFAR

1.      Perjalanan (safar) yang diharamkan.

Perjalanan yang dilakukan untuk hal yang diharamkan. Seperti perjalanan untuk  jual beli miras, perjalanan seseorang untuk merampok dan perjalanan seorang wanita yang tidak ditemani mahramnya[2].

2.      Perjalanan (safar) wajib.

Perjalanan untuk melaksanakan kewajiban haji atau menunaikan umrah yang wajib dan perjalan untuk berjihad yang memang diwajibkan serta menuntut ilmu agama.

3.      Perjalanan (safar) yang di sunnahkan.

Seperti perjalanan umrah yang tidak diwajibkan, menunaikan haji tathawwu’dan jihad tathawwu’.

 

 

 

 

 

 

C.   ADAB – ADAB SAFAR DALAM ISLAM

1.      Dianjurkannya Beristikharah dan Bermusyawarah Sebelum Bersafar.

Dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

“Apabila salah seorang dari kalian ingin melakukan suatu urusan, hendaklah dia ruku’ (shalat) dua rakaat selain shalat fardhu (yakni shalat sunnah). Kemudian hendaklah ia berdo’a[3].[4]

 

Allah Berfirman:

وَشَاوِرْهُمْ فِي اْلأَمْرِ (العمران 159)

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”(Q.S: Al- Imron [03] 159)

 

2.       Dianjurkan Bertakbir Tiga Kali Kemudian Membaca Do’a.

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bila naik di atas kendaraanya untuk melakukan perjlanan, beliau bertakbir tiga kali:

أَاللهُ أَكْبَرُ، أَاللهُ أَكْبَرُ، أَاللهُ أَكْبَر

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.”

Kemudian membaca do’a[5].

3.      Dianjurkan untuk Berpamitan.

ﺇِذَا أَرَادَ أَحَدُكُمْ سَفَرَاً فَلْيُوَدّعْ ﺇِخْوَانَهُ، فَاِنَّ اللهَ تَعَالَى جَاعِلٌ فِي دُعَائِهِمْ خَيْراً

“Jika salah seorang dari kalian ingin bepergian, maka pamitlah kepada saudara-saudaranya. Maka sesungguhnya Allah menjadikan pada do’a mereka sebuah kebaikan.”[6]

 

4.      Berwasiat Kepada Keluarga yang Ditinggalkannya.

 Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ماَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْئٌ يُرِيْدُ أَنْ يُوْصِيَ فِيْهِ يَبِيْتُ لَيْلَتَيْنِ اِلاَّ وَوَصِّيَتُهُ مَكْتُوْبَةٌ عِنْدَهُ

“Tidaklah  benar seorang Muslim yang memilki sesuatu yang hendak diwasiatkan menginap selama dua malam, melainkan wasiatnya sudah tertulis.”[7]

5.      Mengucapkan Selamat Tinggal.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَرَادَ سَفَراً فَلْيَقُلْ لِمَنْ يُخْلَفُ: أَسْتَوْدِعُكَ اللهَ الَّذِيْ لَا تَضِيْعُ وَدَائِعُهُ

“Barang siapa yang ingin melakukan perjalanan hendaklah ia mengucapkan kepada orang yang di tinggalkannya: “Aku titipkan kalian kepada Allah, yang titipan itu tidak akan pernah lepas darinya.”[8]

 

6.      Tidak Safar Seorang Diri.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي اْلوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ مَا سَارَ رَاكِبُ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ

“Sekiranya manusia mengetahui apa yang ada pada kesendirian seperti yang aku ketahui, niscaya tidak akan ada pengendara yang melakukan perjalanan sendirian di malam hari.”[9]

 

7.      Dinjurkan Mengangkat Seorang Pemimpin Safar Apabila Mereka Berjumlah Tiga Orang atau Lebih.

ﺇِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَهُمْ

“Apabila tiga orang bepergian, maka angkatlah satu orang sebagai pemimpin mereka.”[10]

 

8.      Larangan Seorang Wanita Bepergian Jauh, Kecuali Bersama Mahramnya.

لاَ يَحِّلُ لِامْرَأَةٍ مُسْلِمَةٍ تُسَافِرُ مَسِيْرَةَ لَيْلَةٍ اِلاَّ وَمَعَهَا رَجُلٌ ذُوْ حُرْمَةٍ مِنْهَا

“Seorang wanita Muslimah tidak boleh bepergian jauh yang menempuh perjalanan selama satu malam, kecuali dia pergi bersama seorang lelaki mahramnya.”[11]

 

9.      Dianjurkan Melakukan Pejalanan pada Pagi Hari di Hari Kamis.

قُلْ مَنْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُخُ ﺇِذَا أَرَادَ سَفَراً ﺇِلّاَ يَوْمَ اْلخَمِيْسِ

“Jarang sekali Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam bila pergi musafir selain hari kamis.”[12]

10.  Makruh Datangnya Musafir Kekeluargnya di Waktu Malam.

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam melarang seorang lelaki mengetuk pintu rumahnya di malam hari.”[13]

 

11.  Larangan Membawa Anjing dan Lonceng Ketika Bepergian.

لاَ تَصْحَبُ اْلمَلاَئِكَةُ رُفْقَةً فِيْهاَ كَلْبٌ وَلاَ جَرَسٌ

“Malaikat tidak akan menemani sekelompok orang yang bepergian yang membawa anjing dan tidak pula lonceng.”[14]

 

  1. Beristirahat Sejenak Pada Saat Melewati Negri yang Subur dan Tidur Ketika Safar.

ﺇِذَا سَافَرْتُمْ فِي الْخِصْبِ فَأَعْطُوا اْلاِبِلَ حَظَّهاَ مِنَ الأَرْضِ، وَﺇِذَا سَافَرْتُمْ فِي السَّنَةِ فَباَدِرُوا بِهاَ نِقْيهاَ وَﺇِذَا عَرَّسْتُمْ فاَجْتَنِبُواالطَّرِيْقَ فَاِنَّهاَ طُرُقُ الدَّواَبِّ وَمَأْوَى اْلهَواَمِّ بِاللَّيْلِ

“Apabila kalian melakukan perjalanan di daerah yang subur, berikanlah makanan kepada unta-unta kalian. Jika kalian berjalan di daerah yang tandus, maka buru-buru untuk berjalan dan melewatinya. Jika kalian ingin menetap disuatu daerah (untuk tidur dan istirahat-red) di awal malam jauhilah jalanan, karena jalanan itu adalah jalan untuk binatang dan serangga yang membahayakan di malam hari.”[15]

 

  1. Segera Kembali Apabila Urusan Telah Selesai.

اَلسَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ اْلعَذَابِ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ فَاِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ اِلىَ أَهْلِهِ

“Bepergian itu bagian dari adzab, yang menahan makan, minum dan tidur kalian. Jika urusannya telah selesai, bersegralah kembali kepada keluarganya.”[16]

 

  1. Dianjurkannya Shalat Dua Raka’at di Dalam Masjid ketika Dia Masuk ke Kampung Halamannya.

Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesunguhnya Nabi Shalallahu ‘Alaihi wasallam apabila datang dari perjalananny di waktu dhuha’, beliau masuk ke dalam masjid dan shalat dua raka’at sebelum duduk.”[17]

  1. Dianjurkannya Berdo’a:

·         Ketika Keluar Rumah Hendak Safar.[18]

·         Ketika Bepergian dan Kembali.[19]

·         Ketika Hendak Menaiki Kendaraan.[20]

·         Ketika dalam Perjalan.[21]

·         Ketika Singgah di Suatu Tempat.[22]

·         Ketika Hendak Memasuki Suatu Kampung.[23]

·         Ketika Jalan Menanjak dan Menurun.[24]

·         Ketika Mendapati Waktu Malam.[25]

·         Ketika Tampak Fajar dalam Perjalanan[26]

 

Daftar Pustaka:

1.      Al-Jauziyyah, Qayyim, Ibnu. Rabiul Awal 1429 H/Maret 2008 M. “Zadul Ma’ad” Bekal Perjalanan Akhirat. Jakarta: Griya Ilmu.

2.      An-Nawawi, Imam. 2 Oktober 2008. “Al-Adzkar” Ensiklopedi Do’a dan Dzikir Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah as-Shahihah. Jakarta: Pustaka As-Sunnah.

3.      Bin Abdul ‘Aziz Asy-Syalhub, Fuad. Dzulqa’dah 1429 H/November 2008 M. Ringkasan Kitab Adab. Jakarta: PT Darul Falah.

4.      Ensiklopedi Shalat. Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i.

 

 

 

 

 

 

 




[1] Al-Jurjani, At-Ta’rifaat,  hal. 157
[2] Ibnu Qudamah,  Al-Mughni  (III/ 114-117),  Ibnu Utsaimin,  Asy-Syurhul Munti’ (IV/ 491-492)
[3] Berdoa dengan do’a  Istikharah
[4] Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, “Zadul Ma’ad”, jilid 3, hal 197.
[5] Fuad bin Abdul ‘Aziz Al-Syalhub, “Ringkasan Kitab Adab”, bab “Adab Ketika Bepergian (safar):Do’a-Do’a  yang Dibaca oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ketika Beliau Bepergian dan Kembali”, hal 338.
[6] Diriwayatkan oleh Ibnu Al-Sunni (506) dan Al-Hafidz rahimahullah menghasankannya.
[7] Muttafaq ‘alaih dari hadits Ibnu Umar radhiy allahu’anhu, Al-Bukhari, kitab “Al-Washaayaa”, bab “Al-Washaayaa” no 2738, Muslim, kitab “AL-Washiyyah” no 1627.
[8] Ahmad, al-musnad (II/403). Ibnu Majjah, kitab “Al-Jihaad” bab “Tasyyii’ul Ghuzaati wa Wadaa’ihim” no 2825, dinilai shahih oleh Al-Albani di dalam kitab Silsilatul Ahaadiits Al-Sahiihuh, no.16 dan 2547, shahih Sunan Ibnu Majah (II/133).
[9] HR. Al-Bukhari (6/96), Al-Tirmidzi (no. 1673), Al-Darimi (2/289) dari hadits Ibnu ‘Umar.
[10] Diriwayatkan Abu Dawud (2608), Al-Albani berkata: “Hasan Shahih”.
[11] Diriwayatkan Al-Bukhari (1088), Muslim (1339), Ahmad (7181), Al-Tirmidzi (1170), Abu Dawud (1733), Ibnu Majah (2899), dan Malik (1833)
[12] Diriwayatkan Al-Bukhari (2950), Ahmad (15354).
[13] Fuad bin Abdul ‘Aziz  Al-Syalhub, “Ringkasan KITAB ADAB”, bab: “Adab Ketika Bepergian (safar), hal 349.
[14] Diriwayatkan Muslim (2113), Ahmad (7512), Abu Dawud (2555), dan Al-Darimi (2676).
[15] Diriwayatkan Muslim (1926), Ahmad (8237), Al-Tirmidzi (2858), Abu Dawud (2569).
[16] Diriwayatkan Al-Bukhari (1804), Muslim (1927), Ahmad (7184), Ibnu Majah (2882), dan Al-Darimi (3/730).
[17] Diriwayatkan Al-Bukhari (3088), Muslim  (2769), dan Ahmad (15345)
[18] Imam An-Nawawi, “Al-Adzkar” kitab Dzikir Bagi Musafir, bab: Dzikir Ketika Ingin Keluar Rumah, hal 568.
[19] Fuad bin Abdul ‘Aziz Asy-Syalhub, Ringkasan Kitab Adab, bab: Adab Ketika Bepergian (Safar),no: 7/a “Do’a-Do’a yang di Baca oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ketika Beliau Bepergian dan Kembali”, hal 338.
[20] Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, “Zadul Ma’ad”, jilid 3,bab: Petunjuk Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam Tentang Dzikir-Dzikir Safar dan Adab-Adabnya, pasal: Dzikir ketika Hendak Menaiki Hewan Tunggangan, hal 201.
[21] Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, bab: Anjuran Berdoa dalam Perjalanan, hal 582.
[22] Fuad bin Abdul ‘Aziz Asy-Syalhub, Ringkasan Kitab Adab, bab: Adab Ketika Bepergian (Safar),no: 9 “Do’a ketika Singgah di Suatu Tempat”,  hal 343.
[23] Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, “Zadul Ma’ad”, jilid 3,bab: Petunjuk Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam Tentang Dzikir-Dzikir Safar dan Adab-Adabnya, pasal: Do’a Ketika Hendak Memeasuki Suatu Kampung, hal 208.
[24] Fuad bin Abdul ‘Aziz Asy-Syalhub, Ringkasan Kitab Adab, bab: Adab Ketika Bepergian (Safar),no: 7/b “Do’a ketika Jalan Menanjak dan Menurun”, hal 339; Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, “Zadul Ma’ad”, jilid 3,bab: Petunjuk Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam Tentang Dzikir-Dzikir Safar dan Adab-Adabnya, pasal: Dzikir ketika Mendaki Bukit dan Menuruninya, hal 205.
[25] Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, “Zadul Ma’ad”, jilid 3,bab: Petunjuk Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam Tentang Dzikir-Dzikir Safar dan Adab-Adabnya,  pasal: Do’a Seorang Musafir Jika Mendapati Waktu Malam, hal 207.
[26][26] Fuad bin Abdul ‘Aziz Asy-Syalhub, Ringkasan Kitab Adab, bab: Adab Ketika Bepergian (Safar),no: 7/d “Apa yang Dianjurkan untuk Dibaca ketika Memasuki Waktu Sahur bagi Orang Bepergian, hal 340 ; Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, “Zadul Ma’ad”, jilid 3,bab: Petunjuk Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam Tentang Dzikir-Dzikir Safar dan Adab-Adabnya,  pasal: Ketika Tampak Fajar dalam Perjalanan, hal 208.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar